Jumat, 15 Juli 2011
Sukarno dan Pancasila

“Janganlah dikatakan saya ini pembentuk ajaran Pancasila. Saya hanya seorang penggali daripada ajaran Pancasila itu” -Soekarno-
Jika membicarakan sejarah lahirnya Pancasila, maka peran Soekarno tidak dapat dilepaskan daripadanya. Soekarno memiliki peranan besar dalam lahirnya Pancasila hingga dijadikannya Pancasila sebagai dasar negara. Meskipun ada upaya de-Soekarnoisasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru yang bertujuan mengecilkan jasa-jasa Soekarno. Bahkan, sejak tanggal 1 Juni 1970 Kopkamtib melarang peringatan hari lahirnya Pancasila.
Soekarno menyampaikan gagasan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 di gedung Volksraad (sekarang gedung Pancasila). Selain Soekarno, orang-orang yang menyampaikan gagasan mengenai dasar negara adalah M. Yamin yang menyampaikan Lima Asas sebagai dasar bagi Indonesia Merdeka, yaitu Peri-Kebangsaan, Peri-Kemanusiaan, Peri-Ketuhanan, Peri Kerakyatan dan Kesejahteraan Rakyat.. Namun, ketika masa Orde Baru, sejarah lahirnya Pancasila menjadi kontroversial seiring dengan kebijakan pemerintah sebagai upaya de-Soekarnoisasi.
Rabu, 13 Juli 2011
Indonesia Negara Setan..........?
Indonesia Negara Setan ???
Konon 666 adalah bilangan setan (number of the beast)
Korup yang menggila dan terpuruknya bangsa indonesia diawali pada thn 66 (dikutip dari tulisan Pramodya Ananta Toer) : ….Walaupun pada 1966 angkata muda terlihat bergerak, tapi pergerakan mereka adalah pergerakan yang bimbang. Arus besar yang masif itu adalah arus “pesanan”.
Ada Angkatan Darat yang menyetir dan menggembalakan gerakan angkatan muda ‘66 itu. Akibatnya, seusai peralihan licik kekuasaan dilakukan, roda pemerintahan kembali dikuasai oleh militer yang berdagang dan bukan militer yang ksatria. Militer yang berdagang adalah militer yang tak pernah menang perang, dan hanya bisa menghantam dan menembak rakyatnya sendiri.
…..Dalam sejarah modern kita, selamanya Angkatan Muda menjadi motor perubahan ke arah yang lebih maju, kecuali Angkatan 66…(Pramodya Ananta Toer) Satu-satunya nama negara di dunia yang jumlah bilangan ASCII nya 666 adalah Indonesia (INDONESIA dengan huruf kapital, dapat dihitung dengan MSEXCEL) … “=CODE(”I”)” untuk huruf “I” maka kode bilangan asciinya adalah 73.
Ada Angkatan Darat yang menyetir dan menggembalakan gerakan angkatan muda ‘66 itu. Akibatnya, seusai peralihan licik kekuasaan dilakukan, roda pemerintahan kembali dikuasai oleh militer yang berdagang dan bukan militer yang ksatria. Militer yang berdagang adalah militer yang tak pernah menang perang, dan hanya bisa menghantam dan menembak rakyatnya sendiri.
…..Dalam sejarah modern kita, selamanya Angkatan Muda menjadi motor perubahan ke arah yang lebih maju, kecuali Angkatan 66…(Pramodya Ananta Toer) Satu-satunya nama negara di dunia yang jumlah bilangan ASCII nya 666 adalah Indonesia (INDONESIA dengan huruf kapital, dapat dihitung dengan MSEXCEL) … “=CODE(”I”)” untuk huruf “I” maka kode bilangan asciinya adalah 73.
I + N + D + O + N + E + S + I + A
73 + 78 + 68 + 79 + 78 + 69 + 83 + 73 + 65 = 666
73 + 78 + 68 + 79 + 78 + 69 + 83 + 73 + 65 = 666
Tiga pertama presiden indonesia dilahirkan pada bulan juni : soekarno bulan 6 , soeharto 6, habibi 6 juga. …….666!
Presiden ke4 ri Abudurrachman Wahid yang biasa dipanggil Gusdur, jika ditulis gusdur huruf kecil semua, maka jml bil. ascii nya adl 666!
g + u + s + d + u + r
103 + 117 + 115 + 100 + 117 + 114 = 666
103 + 117 + 115 + 100 + 117 + 114 = 666
Teritori kodam wirabuana meliputi wilayah Poso, Palu..daerah penuh konflik sara, poso jg tempat pelatihan teroris alumni afghan …kebetulan juga bilangan ascii “WIRABUANA” = 666
W + I + R + A + B + U + A + N + A
87 + 73 + 82 + 65 + 66 + 85 + 65 + 78 + 65 = 666
87 + 73 + 82 + 65 + 66 + 85 + 65 + 78 + 65 = 666
Th 2006, indonesia dipimpin oleh presiden ri yg ke-6. Diharapkan kepemimpinan sby yang lahir pd tgl 9 bulan 9, capres dr partai no 9 (999) ini akan membawa hoki/keuntungan buat bangsa. Partai pemenang pemilu yg katanya didirikan oleh 9 pencetus dan 99 penandatangan adalah partai Demokrat…hmmm tapi kenapa di masa pemerintahan SBY ini malah banyak bencana yah?…bukannya hoki malah celaka…jangan2 angka 999 nya kebalik! alias 666!
Bukan hal yang aneh di indonesia ini kalau siaran televisi banyak memuat unsur klenik. Iklan santet/pelet/pelaris/ dll yang berbau okultis bukan hal yang tabu di indonesia, bahkan perdukunan/paranormal/ diiklankan di koran2 tertentu.
Indonesia negara setan??? 
Minggu, 03 Juli 2011
BIOGRAFI PULAU MUNA
Geografi Kabupaten Muna adalah salah satu daerah otonom tingkat II dari 12 kabupaten Kota yang ada di Sulawesi Tenggara.Socara geografis Kabupaten Muna terletak di jazirah Pulau Sulawesi ba-gian Tenggara yang meliputi sebagian pulau Buton bagian Utara ( 3 Kecamatan ) dan bagian Utara Pulau Muna ( 20 Kecamatan), serta pulau-pulau kecil disekitarnya atau berada pada posisi 4006’ samapi 5015’ lintang Selatan dan 12208’ – 123015’ bujur timur. a.2. Batas Wilayah Secara administrasi Kabupaten Muna berbatasan dengan Selat Tiworo dan Kabupaten Ko-nawe dan Konawe Selatan di Sebelahutara, Kabupaten Buton utara di sebelah Timur , Kabupaten Buton di Sebelah Selatan serta kabupaten Bombana dan Selat Spelman di Sebe-lah Barat. Jumalh Penduduk kabupaten Muna saat ini adalah 227.595 jiwa yang tersebar di 23 Kecamatan dan 237 Desa/ Kelurahan. Luas daratan Kabupaten Muna adalah 4.887,00 Km2 yang terdiri dari sebagian pulau Buton Bagian Utara, Pulau Muna Bagian Utara dan Pulau-pulau di dekatnya yang tersebar, yaitu ; Pulau Tobea kecil, P. Tobea besar, P. Wataitonga, P. Bakealu, Kepulauan Tiworo ( P. Maginti, P. Balu, P.Katela, P.Mandike, P. Bero, P.Bango, P. Manoang, P.Gala, P.Kajoangin dan P. Tobuan). a.3. Kondisi Tanah Kondisi Geografis kabupaten Muna pada umumnya merupakan daratan rendah dengan ketinggian rata-rata kurang dar 100 meter dari permukaan laut. Keadaan ini dijumpai mulai dari Timur ke Selatan Kota Raha dan melanda kebarat. Pada bagian wilayah yang ada di bagian Utara Pulau Buton terdiri dari barisan pegunungan dengan ketinggian antara 300-800 meter diatas permukaan laut. Pada umumnya wilayah Kabupaten Muna yang ada di Pulau Buton memiliki jenis tanah mediteran, rensina dan litosol. Sedangkan di wilayah Pulau Muna terdiri dari podsolik me-rah dan kuning. Kabupaten Muna memiliki sungai yang cukup besar dan menurut hasil penelitian air yang besar pula yaitu; Sungai katangan dengan debit ait 670 liter/detik, S. Wandoso dengan de-bit air 689 liter/detik, S. Lanoumba 400 liter/detik dan S. Tabangka Balano 1.270 liter/detik. Selain itu Kabupaten Muna juga masih memiliki Sungai besar lainya namun masih memer-lukan penelitian tehnis untuk mengetahui potensi yang dimilikinya yaitu ; Sungai Kambara,dan Sungai malogano. a. 4 Oceanografi Kabupaten Muna juga memiliki lautan yang cukup luas dengan potensi yang dikandungnya cukup besar namun belum terkelola dengan baik seperti ; 1) Ikan Pelagis Dengan potensi 40.000 Ton Terdapat Di Perairan Kec Tikep, Kulisusu Dan Bonegunu. Peluang investasi untuk komoditi ini adalah penangkapan ikan, cold storage dll. 2) Kepiting Bakau Dan Rajungan Dengan potensi 173,2 Ton Terdapat Di Pesisir Kecamatan Tikep, Parigi, Napabalano, Kulisusu Dan Wakorumba; peluang investasi untuk komoditi ini adalah industri makanan dan penangkapan. 3) Rumput Laut dengan potensi sebesar 87,5 ton ; Terdapat Di Pesisir Kecamatan Tikep, Parigi, Napabalano, Kulisusu Dan Wakorumba; peluang investasi yang dapat di kembangkan adalah untuk penangkaran Ikan Kerapu dengan potensi 5000 ton Terdapat Di Kecamatan Tikep Dan Parigi ; peluang investasi untuk penangkaran dan industri keraginan. 4). Tambak dengan potensi 105,53 ton (Total Lahan 20.00 Ha, Tersebar Di Kecamatan Katobu, Wakorumba, Maligano, Bone, Parigi Dan Kabangka – Luas Tambak Yang Sudah Terolah Saat Ini Sebesar 500 Ha ; peluang investasi adalah cold storage dan teknologi budidaya.
Iklim Kabupaten Muna pada umumnya beriklim tropis dengan suhu rata-rata antara 250C-270C dan seperti halnya daerah lain di Indonesia juga memiliki dua musim yaitu musin hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi antara bulan Nopember – maret, dimana pada bula-bula tersebut angin bertiup benua asia dan samudera pasifik yang banyak mengandung uap air yang menyebabkan terjadi hujan di Indonesia. Sedangka musim kemarau terjadi antara bulan Mei- Oktober. Pada bulan ini angin bertiup dari Benua Australia yang sifatnya kering dan hanya sedikit mengandung uap air. Khusus Bulam Maret seperti daerah lain di Sulawesi tenggara di di Kabupaten Muna angin bertiup dengan arah yang tidak menentu, akibatnya curah hujan ikut tidak menentu dan keadaan ini di kenal dengan panca roba. a. 6. Curah Hujan. Curah Hujan di kabupaten Muna setiap tahun besarannya berfariasi antara 1.250 mm – 2.323 mm / tahun. Namun sejak tahun 2002 kondisinya semakin memburuk dan terjadi pe-rubahan yang sangat radikal disetiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat dari curah hujan pada tahun 2003 – 2008 yang tidak mencapai 1000mm/pertahun. Kondis ini diprediksi akibat ke-rusakan hutan yang terjadi secar besar-besaran selama masa pemerintahan Ridwan sebagai Bupati Muna.
Penduduk dan Tenaga Kerja Angkatan kerja di kabupaten muna mencapai 195.592 Jiwa dari 227.595 jiwa penduduk. Pencari Kerja : 5.845 Jiwa
Kondisi social D. Potensi A. Sub Sector Tanaman Pangan Dan Perkebunan 1. Jambu Mete : Produksi Buah Sejati 9.272 Ton, Buah Semu 37.088 Ton ; Kulit Mete 3.100 Ton. Peluang Investasi Untuk Sector Ini Adalah Kacang Mete, Juice Dan Minyak Laka (CNSL). Bagi petani, menanam jambu mete lumayan menguntungkan ketimbang bergantung pada hasil padi. Harga biji mete gelondongan saat ini Rp. 6.500 – Rp. 7.000 per kilogram, lebih rendah disbanding mete kupas Rp. 25.000 – Rp. 30.000 per kilogram. 2. Kakao (10.000 Ha – Produksi 2815 Ton/Tahun) 3. Jagung : Produksi Jagung Pipilan Sebesar 34.054 Ton Dan Peluang Investasi Untuk Komoditi Ini Adalah Tepung Maizena, Pakan Ternak Dan Lain-Lain.(30.000 Ha – Produksi 34.054 Ton/Tahun) 4. Ubi Kayu : Produksi Ubi Basah Sebesar 25.065 Ton, Peluang Investasi Untuk Komoditi Ini Adalah Tepung Tapioka, Gaplek Dll (15.000.Ha – Produksi 25.065 Ton/Tahun) 5. Kacang Tanah : Lahan Seluas 15.000 Ha – Produksi 4.848 Ton/Tahun ; Peluang Investasi Untuk Komoditi Ini Adalah Kacang Garing, Kacang Atom Dll 6. Jeruk Siam
Sub Sector Peternakan 1. Sapi Potong opulasi 24.861 Ekor – Produksi 4.075 Ekor Atau 14 % Per Tahun ; Peluang Investasi Untuk Komoditi Ini Adalah Penangkaran Dan Penggemukan]
Sub Sector Perikanan 1. Ikan Pelagis Dengan potensi 40.000 Ton Terdapat Di Perairan Kec Tikep, Kulisusu Dan Bonegunu. Peluang investasi untuk komoditi ini adalah penangkapan ikan, cold storage dll. 2. Kepiting Bakau Dan Rajungan Dengan potensi 173,2 Ton Terdapat Di Pesisir Kecamatan Tikep, Parigi, Napabalano, Kulisusu Dan Wakorumba; peluang investasi untuk komoditi ini adalah industri makanan dan penangkapan 3. Rumput Laut dengan potensi sebesar 87,5 ton ; Terdapat Di Pesisir Kecamatan Tikep, Parigi, Napabalano, Kulisusu Dan Wakorumba; peluang investasi yang dapat di kembangkan adalah untuk penangkaran 4. Ikan Kerapu dengan potensi 5000 ton Terdapat Di Kecamatan Tikep Dan Parigi ; peluang investasi untuk penangkaran dan industri keraginan 5. Tamba dengan potensi 105,53 ton (Total Lahan 20.00 Ha, Tersebar Di Kecamatan Katobu, Wakorumba, Maligano, Bone, Parigi Dan Kabangka – Luas Tambak Yang Sudah Terolah Saat Ini Sebesar 500 Ha ; peluang investasi adalah cold storage dan teknologi budidaya.
Sub Sektor Kehutanan 1. Komoditi Jati Dengan potensi Luas Lahan 40.000 Ha Dengan Produksi Sebesar 15.150 M3. Peluang investasi adalah pengembangan hutan kemasyarakatan/social forestry 2. Pinus Dengan potensi Luas Lahan 4000 Ha ; peluang investasi adalah pengolahan 3. Rotan Dengan potensi Luas Lahan 105.000 Ha Dan Produksi Sebesar 2000 Ton. Peluang investasi adalah pengolahan.
Sektor Pertambangan 1. Lempung : Seluas 29.300 Ha Atau Setara Dengan 24,5 M3 – Terdapat Di Kecamatan Tikep 2. Pasir Kwarsa Seluas 1160 Ha Atau Setara Dengan 35,2 Juta M3 – Terdapat Di Kecamatan Tikep. Peluang investasi yang dapat dikembangkan adalah usaha bahan baku kaca 3. Batu Gamping Seluas 92.600 Ha Atau Setara Dengan 24,4 Miliyar M3 Terdapat Di Kecamatan Tongkuno Dan Wakorsel. Peluang investsi adalah industri semen 4. Marmer Seluas 1.600 Ha Atau Setara Dengan 16,6 Miliyar M3 Terdapat Di Kecamatan Wakorumba Utara, Kulisusu Dan Bonegunu. Peluang investasi adalah batu dimensi dan kerajinan usaha kecil 5. Aspal Seluas 360 Ha Atau Setara Dengan 120,5 Juta M3 – Terdapat Di Kecamatan Wakorumba, Kulisusu, Dan Bonegunu. Peluang investasi adalah aspal alam dan aspal murni 6. Minyak Bumi (Masih Dalam Penyelidikan) Terdapat Di Kecamatan Kulisusu). Peluang investasi adalah minyak mentah
Potensi pariwisata 1. Taman Rekreasi Pantai Napabale Di Kecamatan Lohia 2. Ajang Perkelahian Kuda (Tradisional) Di Kecamatan Lawa 3. Pantai Walengkabola Di Kecamatan Tongkuno 4. Pantai Membuku Di Kecamatan Kulisusu 5. Pulau Labuna Tobelo 6. Layang-Layang Kabawo 7. Liangkobori Kecamatan Lohia.
Jumat, 01 Juli 2011
Sejarah Nama Indonesia
Sejarah Asal Nama Indonesia
Sejaarah
Kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan").
Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi ("kemenyan Jawa"), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "orang Jawa" oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi ("semuanya Jawa").
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).
Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu "Insulinde", yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa Latin "insula" berarti pulau). Nama "Insulinde" ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.
Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur"), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris):
"... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia"".
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):
"Mr Earl menyarankan istilah etnografi "Indunesian", tetapi menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah geografis murni "Indonesia", yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia"
Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau.
Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang Indonesia").
Dari segi Politik
Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,
"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."
Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia-Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesië diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak.
Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia-Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia.
Rabu, 22 Juni 2011
MENGAMALKAN KEMBALI NILAI-NILAI IDEOLOGI PANCASILA DI SULAWESI TENGGARA
MARI…KITA WUJUDKAN PERSATUAN DAN KESATUAN KITA SEBAGAI WARGA NEGARA INDONESIA DENGAN MENGAMALKAN KEMBALI NILAI-NILAI IDIOLOGI PANCASILA DAN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 SEBAGAI DASAR NEGARA KITA.
DENGAN MOTO NEGARA KESATUAN INDONESIA
“BERBEDA-BEDA TETAP SATU” YAITU BANGSA INDONESIA.
Bulan juni merupakan momentum lahirnya Pancasila sebagai lambang Negara Indonesia sekaligus sebagai pedoman hidup Bangsa Indonesia untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil dan makmur, hal ini diliris dalam sebuah pitah persatuan yang tertanam dalam cengkraman burung Garuda yaitu “Bhineka Tunggal Ika : Berbeda-beda tetap satu”. Nilai-nilai leluhur Idiologi Pancasila ini lah yang selalu mengingatkan kita sebagai generasi muda Bangsa Indonesia di era reformasih ini agar kita senang tiasa menjaga persatuan dan kesatuan sebagai warga Negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan menanamkan nilai-nilai Idiologi Pancasila tersebut.
Sedikit kita mengulas kembali sejarah mempersatukan Bangsa Indonesia pada kemerdekaan Bangsa Indonesia pada Tahun 1945 ; Bangsa Indonesia merupakan Negara kepulawan yang tumbuh dan berkembang dengan beberapa pula-pulau yang tersebar di seluruh kawasan nusantara Indonesia yang di mana memiliki 5 pulau terbesar di kawasan nusantara dan puluhan ribu pulau kecil yang ada di wilayah Kesatuan Negara Indonesia serta memiliki keanekaragaman suku, bahasa, budaya, dan agama.
Kerumitan yang di hadapi oleh bangsa Indonesia pada saat itu adalah mempersatukan 5 pulau besar dan puluhan ribu pulau kecil yang tersebar di Kawasan Nusantara dan beraneka ragam suku, budaya, bahasa dan agama untuk menjadi satu kesatuan Bangsa Indonesia.
Oleh karena itu dalam menghadapi perbedaan yang terjadi diwilayah negara indoesia tersebut timbulah inisiatif atau pemikiran, bahwa Indonesia adalah Negara yang terdiri atas beragam suku, buday , bahas bahkan agama yang harus dapat diprsatukan dalam suatu Negara kesatuan.
Seorang Konseptor Bangsa Indonesia yaitu Ir. Soekarno yang berjiwa Nasionalis untuk melahirkan solusi terbaik dalam rangka mempersatukan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan mengonsepkan nilai-nilai Pancasila sebagai lambang dan pedoman hidup bangsa Indonesia sehingga terjalinnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia agar terciptanya kehidupan masyarakat Indonesia adil dan makmur. Rasa persatuan ini yang tertanaman di masyaraka Indonesia adalah Sila ke-3 (tiga) pada pancasiala yang berbunyi “Persatuan Indonesia” yang artinya bahwa masyarakat Indonesia senang tiasa menjaga dan mempertahangkan rasa persatuan dan kesatuan di seluruh Indonesia dengan tidak memandang perbedaan suku, bahasa, budaya maupun agama.
Dengan penjelasan sejarah singkat tersebut sudah barang tentu kita sebagai warga Negara Indonesia dalam rangka mempertahangkan dan menjaga rasa persatuan dan kesatuan maka kita senang tiasa hidup bertenggang rasa, saling menghargai serta bertoleransi antara satu sama lain diwilayah Negara Kesatuan Indonesia yang memiliki keaneka ragaman suku, budaya, bahasa dan agama.
Cerminan nilai-nilai Pancasila di era reformasi ini semakin berkurang di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia khususnya generasi muda bangsa dan Pemerintah Indonesia, hal ini tercermin di Daerah-daerah Etonom yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini di buktikan dengan banyaknya permasalahan yang di alami bangsa Indonesia saat ini yang mencerminkan semakin berkurangnya niilai-nilai persatuan dan kesatuan yang mengakibatkan perpecahan diantara kita sebagai warga Negara Indonesia, salah satunya adalah perbedaan pendapat yang mengakibatkan konflik horjintal di wilayah Indonesia, teroris, lahirnya Negara Islam Indonesia (NII), pemisaan wilayah dari Negara kesatuan Indonesia, perang saudara dan lain-lain.
Cerminan penerapan nilai-nilai Pancasila yang semakin berkurang pula terlihat di Daerah Sulawesi Tenggara sebagai Daerah otonom di wilayah Negara Kesatuan Indonesia. Propinsi Sulawesi Tenggara mrupakan daerah penyatuhan antara daerah kepulawan dan daratan Sulawesi Tenggara yang memiliki beraneka ragam suku, budaya, bahasa dan agama serta ber-Ibukotakan di Kota Kendari yang bertujuan sama yaitu memper-erat hubungan persaudaraan dalam menjaga dan mempertahangkan rasa persatuan dan kesatuan Negara RI, dalam rangka membangun Sulawesi Tenggara untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur serta bermartabat.
Di era reformasi saat ini nilai-nilai leluhur Pancasila dalam rangka menciptakan rasa persatuan dan kesatuan di kalangan masyarakat sebagai warga Negara Indonesia semakin berkurang khususnya di Sulawesi Tenggara yang ber-Ibukotakan kendari, ini terlihat cukup jelas dengan berdirinya Monomen sejarah (Patun Haluoleo) di tengah-tengah Ibukota Propinsi yaitu kota kendari dengan mencolak satu warnah.
Keberadaan patun Haluoleo tersebut di Ibu Kota Sulawesi Tenggara diduga sudah melenceng dari nilai-nilai Pancasilah yaitu “Bhineka Tunggal Ika : Berbeda-beda tetap satu”, artinya bahwa wujud dari Ibukota propinsi adalah tempat dimana mempersatukan dan mempertemukan berbagai macam suku, budaya, bahasa dan agama di seluruh Indonesia khususnya di wilayah Daerah propinsi itu sendiri untuk membangun rasa persatuan dan kesatuan tampa ada perbedaan dalam mewujutkan masyarakat yang adil dan makmur, begitupun di Ibu Kota Provinsi Sultra Kota Kendari.
Haluoleo adalah pahlawan yang bersejarah bagi seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara dan bangsa Indonesia di mana Haluoleo merupakan Pahlawan Pemersatu Sulawesi Tenggara Daratan dan kepulawan yang menciptakan rasa persatuan dan kesatuan di Tengah-tengah masyarakat Indonesia khususnya masyarakat provinsi Sulawesi Tenggara pada saat itu.
Hal ini sudah cukup jelas bahwa dengan kesimpang siurnya/perbedaan pendapat sejara Filsofi Haluoleo di tengah-tengah masyarakat Sulawesi Tenggara dekade ini khususnya di ibukota provinsi Sulawesi tenggara perlu adanya pertimbangan dan ketelitian secara positif dan rasional oleh pemerintah Kota kendari dan pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara dengan mengedapankan nilai-nilai Idiologi Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara kesatuan Republik Indonesia dalam menyikapi maksud dan tujuan di bangunya Monomen bersejarah tersebut
SUBAR JMP
Langganan:
Postingan (Atom)